Cinta itu Menyeramkan Saat Diri Tidak Mengenalnya


Cinta, sebuah kata yang mengandung makna dalam sehingga membuat banyak orang menjadi mabuk kepayang. Ya, begitulah cinta. Hampir setiap orang memiliki definisi tentang cinta, tapi tidak semua orang pernah memahami makna cinta sesungguhnya dan untuk apa setiap manusia diberkahi cinta oleh-Nya.

Cinta memang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Sebab saat manusia dilahirkan ke dunia, Tuhan menganugerahkan cinta secara cuma-cuma kepada setiap hambanya tanpa terkecuali. Dengan begitu, jika ditelisik secara logika, apa yang menjadi modal hidup pertama kali saat manusia dilahirkan di muka bumi? Ya, Jawaban paling bijak adalah cinta.

Secara korelasi, sudah bisa ditarik kesimpulan bahwasanya cinta adalah akar dari segala hal yang terjadi dan segala yang ada pada diri manusia. Dengan adanya cinta, berbagai kebaikan nurani pun muncul, diantaranya saling menghormati, tenggang rasa, gotong royong, kepedulian sosial, kepekaan terhadap sekitar, peduli terhadap alam, dan hal-hal baik lainnya.

Lantas, dengan begitu indahnya cinta, apakah pantas jika cinta dinodai dengan sesuatu yang tercela? Sedang ia (baca:cinta) saja dianugerahkan dalam keadaan suci. Atas dasar cinta, banyak orang melakukan kesalahan-kesalahan yang sebetulnya tidak pernah diajarkan oleh cinta itu sendiri.

Apakah cinta mengajarkan untuk saling menyakiti? Mungkin iya, mungkin saja tidak. Sebab, cinta tidak punya bibir untuk mengungkapkan apa yang ia rasa. Namun, ia memiliki kekuatan yang bisa memaksa otak serta tubuh untuk berbuat sesuatu sesuai kehendaknya. Buktinya, banyak orang yang merasa terlukai karena cinta. Dan, banyak pula yang terbahagiakan karena cinta.

Seseram itukah cinta? Iya, cinta memang seram, saat diri tidak bisa membawanya ke arah yang kurang tepat. Begitu juga sebaliknya, cinta itu membahagiakan, saat diri bisa membawanya ke arah yang tepat. Lantas, secara gamblang bisa dikatakan bahwa cinta itu pedang bermata dua, tergantung dari sisi mana manusia bisa mendengar kelembutan cinta dan membawanya ke sebuah “ruang” yang penuh dengan cinta.

Penulis : Maulana Affandi

Labels: