Menyibak Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi | Sastra Wacana


Membahas tentang keindahan kota Banyuwangi memang tidak akan pernah ada habisnya. Banyuwangi merupakan kota yang sarat akan keindahan wisata, budaya, tradisi, dan kesenian. Salah satu kesenian yang telah menjadi ciri khas dari kota tersebut adalah Tari Gandrung. Kata "Gandrung" sendiri memiliki arti yaitu terpesonanya masyarakat Blambangan kepada Dewi Sri yang mereka percaya sebagai Dewi padi yang telah membawa kesejahteraan untuk pertanian mereka. Tujuan dari tari Gandrung adalah sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat akan hasil panen yang melimpah.

Tari gandrung sendiri memiliki histori dan filosofi yang sangat menarik. Menurut sejarah yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu, kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan "Tirtagondo" untuk membangun ibukota Blambangan atas perintah dari Mas Alit yang telah dilantik sebagai Bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang.

Pada awal kemunculannya, tari gandrung dibawakan oleh para lelaki yang berdandan seperti perempuan. Namun, pada tahun 1980an, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dan benar benar berakhir pada tahun 1914 setelah kematian penari terakhirnya yakni Karsan.

Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi. Semi merupakan seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang menderita penyakit cukup parah pada tahun 1895. Segala macam cara sudah dilakukan demi kesembuhannya, namun Semi tak kunjung sembuh. Akhirnya Ibu Semi bernazar "kadhung sira waras, sun dhadekaken seblang, kadhung sing yo sing" yang berarti (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Lambat laun kesehatan Semi mulai berangsur membaik dan dijadikanlah dia seblang serta dimulainya babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh perempuan.

Tradisi gandrung yang dilakukan oleh semi kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya. Pada mulanya tari gandrung hanya boleh ditarikan oleh keturunan penari gandrung saja, namun di tahun 1970an, mulai banyak anak perempuan muda yang belajar tari gandrung sehingga tarian ini dikenal oleh seluruh masyarakat Banyuwangi.

Pada perkembangan jaman, kesenian gandrung banyuwangi melibatkan seorang penari wanita profesional bersama para tamu pria yang menari dengan iringan musik khas Jawa dan Bali seperti: gong, kluncing, biola, kendhang, kethuk dan panjak sebagai pelengkapnya. Selain itu di selingin dengan Saron Bali, angklung atau rebana sebagai bentuk kreasi.
Tari gandrung di bagi menjadi 3 bagian yaitu:

1. Jejer
Merupakan bagian pembuka pertunjukan dengan dinyanyikannya beberapa lagu oleh penari secara solo.

2. Maju
Setelah jejer selesai, sang penari Gandrung memainkan dan memberikan selendangnya kepada tamu pria.  Umumnya tamu-tamu pentingkah yang berkesempatan untuk menari terlebih dahulu. Penari Gandrung mendatangi tamu yang menari dengannya denga gerakan-gerakan menggoda. Itulah esensi dari tari Gandrung yakni tergila-gila dan hawa nafsu.

3. Seblang Subuh
Merupakan bagian penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan Gandrung. Pada bagian ini, penari Gandrung akan melakukan gerakan perlahan dan penuh penghayatan sambil membawa kipas yang dikibaskan sesuai dengan irama. Suasana mistis akan sangat terasa pada treatment ini karena terhubung erat dengan ritual seblang yang diartikan sebagai ritual penyembuhan atau penyucian.

Busana yang dikenakan oleh penari Gandrung sangat khas dan berbeda dari kesenian tari Jawa lainnya. Karena terdapat pengaruh kerajaan Blambangan dan Bali di dalamnya. Hal itu dapat kita lihat dari busana penari Gandrung yang terbuat dari kain Beludru berwarna hitam yang dihiasi dengan ornamen berwarna emas.

Sedangkan pada bagian bawah penari Gandrung mengenakan kain batik panjang khas Banyuwangi. Dan pada bagian kepala, penari gandrung memakai "Omprok" yakni mahkota dengan berbagai macam hiasan berwarna merah dan emas. Berbagai aksesoris seperti kelat pada tangan, ikat pinggang, selendang, dam simbong yang dihiasi warna emas juga digunakan. Tidak lupa juga tata rias khusus yang dipoleskan agar penari gandrung tampak semakin cantik.

Pada era globalisasi ini, kesenian Gandrung Banyuwangi masih tetap kokoh dan telah menjadi maskot pariwisata Banyuwangi dengan disusulnya pembuatan patung Gandrung yang diletakkan di berbagai sudut kota dan desa. Bahkan pemerintah Banyuwangi mempromosikan gandrung untuk dipentaskan di beberapa kota bahkan luar negeri.

Penulis   : Eva
Editor     : Maulana Affandi

Labels: ,