Memesona tak Lebih dari Sekedar Kiasan Manis? Simak Penjelasannya!


Sebagai makhluk yang berbudi luhur, manusia memang sudah sepatutnya memiliki sifat santun dan saling mencintai. Pasalnya, cinta adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada seluruh hambanya. Sudah menjadi kodrat setiap manusia untuk hidup berdampingan dengan cinta. Ditelisik secara duniawi maupun agama, perihal cinta dan mencintai tidak akan ada habisnya. Walau sampai kapanpun dan dibahas sebanyak apapun, cinta tetaplah cinta, tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah terpisah dari kehidupan manusia.

Bila digambarkan dalam bentuk grafik, posisi cinta menempati urutan teratas yang memiiki beberapa akar di bawahnya. Cinta membentuk kasih sayang, kemesraan, toleransi, tenggang rasa, tanggungjawab, peduli, perhatian, semangat, pesona dan hal baik lainnya.

Dengan cinta, manusia mampu menjadi pribadi yang memiliki pesona bagi setiap yang memandangnya. Cinta mampu membangkitkan ketulusan dan kelembutan budi setiap orang. Dengan kelembutan cinta yang dimiliki, maka ketentraman dan ketenangan batin akan didapatkan. Jika pesona dikatakan sebagai akar dari cinta, maka orang yang memiliki cinta pasti memiliki pesona dalam dirinya.

Sederhanya, #MemesonaItu adalah pembuktian bahwa manusia memiliki cinta. Jadi, selama cinta masih bersemi dalam diri manusia, tidak ada satupun manusia yang tidak memiliki pesona dalam dirinya. Sudut pandang penilaian pesona tidak selalu sama sebab setiap manusia memiliki perbedaan kecondongan pusat yang dicintai. Ada yang memesona karena suaranya, ada yang memesona karena postur tubuhnya, ada yang memesona karena kepintarannya, dan memesona karena hal lainnya.

Jadi, sebagai manusia yang bijaksana haruslah mengenal dirinya terlebih dahulu dan mengenal cintanya sendiri. Jika sudah mengenal diri dan cintanya, maka ia akan tahu bentuk pesona yang bersembunyi dalam dirinya. Dengan mengetahui potensi pesona dalam diri, tidak akan sulit memancarkan pesona tersebut yang membuat setiap orang berdecak kagum kepadanya.

Bahkan #MemesonaItu juga tidak harus cantik atau tampan. Banyak orang yang terlalu berlebihan memperlakukan dirinya guna memancarkan pesona yang ada. Dengan perlakuan seperti itu, sudah dapat dipastikan jika orang-orang tersebut tidak mengetahui nilai pesona yang di dalam dirinya. Jelas saja, jika mereka tahu pesona yang dimiliki, tentu saja tidak perlu melakukan hal yang berlebihan. Cukup mengasah dan meningkatkan potensi agar pesona itu muncul secara alami.

Dengan pesona, kehadiran seseorang akan selalu dinanti-nanti. Pesona yang dimiliki mampu meluluhkan hati setiap yang memandangnya. Terlebih bisa berdiskusi dan bercengkrama bersama. Namun, berdiskusi dengan orang yang penuh pesona akan mengalahakan kita. Sebab, kita tidak akan fokus dengan apa yang dibicarakan, melainkan kita lebih fokus dengan si pembicara tersebut, itu faktanya.

Memiliki pesona sangatlah bermanfaat bagi setiap manusia. Dengan begitu, pasti akan banyak yang memperhatikan dan “menggandrunginya”. Saat sudah diperhatikan oleh orang lain, maka interaksi dalam kehidupan sosialpun akan berjalan sangat mulus. Selain membantu dalam hubungan bermasyarakat, pesona yang dimiliki juga mampu menginspirasi setiap orang. Menjadi inspirasi merupakan sebuah kebanggaan yang selalu didambakan oleh setiap manusia.

Maka dari itu, jika orang lain memiliki pesona yang sedemikian hebatnya. Mengapa kita tidak? Pada dasarnya, kita sama-sama makhluk yang memiliki hati serta akal. Kedua hal tersebut adalah modal kita untuk berpikir dan menentukan sesuatu, termasuk menentukan pesona dan potensi yang dimiliki. Jika kita sudah mengetahui apa bakat dan pesona dalam diri, tingkatkan potensi tersebut agar kita mampu memesona setiap orang.


Penulis   : Maulana Affandi

Labels: