Ucapan Leluhur Menjadi Kutukan


Pada zaman dahulu sebelum adanya proses modernisasi, hanya hukum adat dan tradisi yang masih digunakan secara optimal. Terdapat anggapan bahwa ucapan-ucapan orang tua adalah hal yang sakral dan perlu dipatuhi. Aktifitas apapun yang sudah mendapat wanti-wanti dari orang tua selalu dijaga dan tidak ada yang berani melakukannya. 

Mungkin karena pendidikan yang kurang atau rasa percaya pada adat dan tradisi sangat tinggi. Sebagai contoh kecil, di saat manusia pra modern ingin melakukan hajatan selalu di luar (selain) bulan Syura (Muharam). Orang tua pada masa itu percaya bahwa bulan Syura adalah bulan yang penuh musibah seperti penyakit, bencana, kegagalan usaha, maupun perkawinan. Jadi barang siapa yang melakukan hajatan di bulan Syura maka tidak lama akan mendapat musibah besar.

Tak khayal mereka atau warga pada masa itu mempercayai dan tidak melanggar pesan dari pendahulunya. Entah karena mereka takut atau hanya menjaga tradisi. Padahal secara ilmiah dan penelitian itu semua masih belum bisa dipertanggungjawabkan, karena sifatnya tak nyata (ucapan). Contoh lain adalah sebagai seorang pemuda, dilarang makan di depan pintu karena bisa membuatnya tidak disukai gadis pada masa itu. Entah terjadi atau tidak, karena kita hidup di masa sekarang.

Menurut penelitian yang telah dilakukan para peneliti, kejadian-kejadian seperti itu dinamakan "Folklore" yaitu ilmu yang mempelajari tentang tatacara hidup sekelompok manusia yang memiliki ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan. Folklore juga membahas tentang warisan leluhur secara lisan maupun gerakan dan isyarat yang mudah diingat dan bermakna.

Dalam pembahasan mengenai warisan leluhur ini, Folklore menyimpulkan bahwa ucapan-ucapan atau wanti-wanti dari orang tua pada masa itu juga bermanfaat walau alasan mereka sedikit tidak logis. Seperti contoh di atas, seorang pemuda dilarang makan di depan pintu dengan alasan nanti dia ditolak oleh semua gadis. Penjelasan sederhananya "ya jelas di tolak gadis, gadis mana yang gak enek liat cowok makan di depan pintu ganggu orang keluar masuk, terus kotor lagi". Adapula contoh yang mengatakan "jangan bersiul di malam hari karena akan mengakibatkan rezeki hilang". Secara sederhana bila dijelasakan "ya jelas rezeki hilang, siul malem hari kan mengganggu istirahat orang sekitar. Kalau istirahat terganggu besok sakit tidak bisa kerja dan gak dapet uang deh".

Jadi apa yang dikatakan pada orang tua zaman dahulu semua bersifat positif tergantung kita yang mengartikan. Jangan salah paham dengan maksud mereka mewanti-wanti dengan alasan yang aneh. Tapi itu semua memang untuk kebaikan anak cucu mereka sampai kita saat ini. Hal ini bukan merupakan kutukan, tapi merupakan logika yang masuk akal bila kita dapat memaknai hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


Penulis : Maulana Affandi

Labels: